Membongkar Poros Megawati – Taipan Tionghoa






Bagaimana menurut anda, apabila ada sebuah konfrensi yang diikuti 3000 pengusaha yang mewakili 30 negara diselenggarakan di negara ini tapi dibuka hanya oleh seorang ketua umum parpol, bukan oleh presiden yang sah di negara ini? Apa kira-kira agenda terselubung di balik gagasan konfrensi tersebut?
Peristiwa itu terjadi sewaktu Konferensi Pengusaha Tionghoa Sedunia ke-13 yang digelar di Nusa Dua, Bali, Sabtu 26 September 2015. Di dalam konfrensi dua tahunan itu, tak nampak Presiden Joko Widodo maupun Wakil Presiden Jusuf Kala hadir. Malah Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarno Putri-lah yang membuka acara tersebut, layaknya presiden yang sesungguhnya.

Sepuluh hari sebelum konfrensi digelar, yakni pada tanggal 16 September 2015, tiga direktur utama bank terkemuka Indonesia datang ke Beijing bersama dengan Meneg BUMN Rini Soemaro. Ketiga bank tersebut diantaranya: Bank Mandiri, Bank BRI, dan Bank BNI diberi suntikan dana (baca: dicaplok) oleh China Development Bank (CBD) senilai Rp 42 triliun.  Padahal kondisi bank tersebut dalam keadaan sehat. (Sumber: detikFinance).

Rini, yang dua kali menjabat Meneg BUMN, yakni di era kepemerintahan Megawati dan di era Presiden Jokowi sekarang ini, oleh banyak kalangan sering disebut-sebut sebagai agen perantara kebangkitan Indonesia-Tiongkok. Rini dianggap tokoh kunci penghubung utama antara pemerintah Indonesia dengan para taipan Tionghoa. 

Dan, entah dalam kapasitas apa, Megawati juga memberikan keynote speech dalam acara tersebut. "Indonesia masih tetap dilihat, didengar oleh banyak kalangan masyarakat dari China overseas," ucapnya saat memberikan sambutan singkat. (www.beritasatu.com)

Ketika Megawati menjadi presiden sudah nampak kedekatannya dengan Cina daratan dan Cina rantau yang sekarang menjadi kekuatan ekonomi di kawasan Asia. Kekuatan global sekarang bergeser ke kawasan Asia-Pasific dengan episentrumnya ada di Cina.

Kekuatan ekonomi Cina rantau (Chinese Oversease), GDP nya sudah melampaui Cina daratan. Hampir semua negara di kawasan Asia, terutama Asia Tenggara, ekonomi dan bisnisnya sudah berada di tangan konglomerat Cina. Bahkan di beberapa negara Asia, Cina rantau sudah masuk ke ranah politik, seperti di Thailand, Malaysia, Singapura, Pilipina, dan Indonesia.

Kita bisa lihat sejak Orde Baru, di era Soeharto kalangan Cina rantau sudah berpenetrasi dalam kekuasaan Soeharto. Di bawah Sudana Salim atau yang dikenal Liem Sioe Liong, para taipan Tionghoa menjadi salah satu pilar kekuasaan Soeharto, dan dipercaya membangun perekonomian Indonesia. Namun, semuanya berakhir dengan malapetaka. Pada tahun l998, akibat krisis ekonomi, kalangan Cina rantau ini semua lari ke Singapura berikut uang yang mereka miliki.

Di era Megawati, penetrasi kalangan Cina rantau ini semakin jauh lagi terhadap kekuasaan Mega. Melalui lobi-lobi, Mega mendatangi Peking (sekarang Beijing) guna menandatangai penjualan 'gas tangguh' dengan harga yang sangat murah. Mega juga menjual aset negara yang paling penting dan sangat strategis, yaitu Indosat kepada Singapura, yang merupakan pusat Cina rantau. 

Gayung pun tersambut. Pidato Megawati dalam konfrensi itu merupakan bagian dari skenario kebangkitan “Poros Indonesia-Tiongkok”, melanjutkan “Poros Jakarta – Peking” yang dulu digagas Presiden Soekarno ayahnya. Penggagas konfrensi, Mochtar Riady pemilik Lippo Grup dalam acara tersebut mengajak 3000 pengusaha Tionghoa yang tersebar di seluruh dunia itu untuk berinvestasi di Indonesia.
 (theglobal-review.com)

Mengingat situasi ekonomi dunia saat ini memang tengah mengalami keterpurukan, Mochtar Riady mengajak pengusaha Tionghoa melakukan kerja sama dengan mengumpulkan modal bersama dalam berinvestasi.
Gagasan urunan investasi inilah nampaknya yang mejadi gagasan pokok konfrensi tersebut. Riady juga mengisyaratkan bahwa bidang properti dan tambang batubara merupakan potensi sumberdaya alam yang kiranya perlu jadi prioritas dalam berinvestasi di Indonesia. Sepertinya, Riady paham betul simpul-simpul jaringan bisnis etnis Cina mana saja yang siap dia gerakkan untuk menguasai ketiga bidang investasi tersebut di tanah air kita ini. 

Sejak 1967 sampai sekarang, pengusaha Tionghoa dari Singapura, Hongkong, dan Taiwan, masih merupakan penanam modal terbesar di Indonesia. Modal yang mereka tanam di Indonesia lebih besar dari penanaman modal Jepang, Inggris, maupun Amerika Serikat.

Kalau kita mau cermati, hal ini menunjukkan betapa jaringan investor Cina telah menjangkau ke dalam perekonomian Indonesia melalui cara-cara penanaman modal asing. Strateginya adalah, pertama-tama para investor itu mendirikan perusahaan di Hongkong atau Singapura untuk memanfaatkan sumber-sumber modal etnis Cina global, kemudian mengembangkan jalinan dengan berbagai jaringan bisnis Cina di dalam negeri. 
Meskipun terdiri dari aneka ragam etnis yang berbeda-beda, namun untuk urusan bisnis, orang-orang Cina rantau ini ternyata cukup kompak dan solid. Bahkan seorang pakar masalah Cina Aihwa Ong, menggambarkan adanya rasa kebersamaan terhadap yang apa yang dia istilahkan sebagai “Identitas Transnasional.”  

Agaknya, Mochtar Riady dan mitra-mitra strategisnya tahu betul bahwa rasa kebersamaan atas dasar identitas trans-nasional etnis Cina yang menembus batas-batas negara merupakan aset strategis yang bisa digalang untuk menanam investasi di Indonesia.

Sedemikian rupa besarnya pengaruh jaringan bisnis regional Cina di Asia Timur dan Asia Tenggara, termasuk di Indonesia, pemerintahan Cina daratan di Beijing pun menyadari potensi finansial yang dimiliki kelompok Cina rantau ini. Maka di sinilah kebijakan double standard pemerintah Cina diterapkan terhadap para taipan rantau tersebut. 

Dari sudut pandang ideologis Partai Komunis Cina, para taipan lintas negara ini sebenarnya merupakan musuh negara akibat kekayaan yang mereka miliki itu. Pemerintah komunis Cina menggolongkan para taipan ini ke dalam “kelas kapitalis.” Tapi ini hanya berlaku untuk konsumsi dalam negeri saja. Ke luar negeri, pemerintah Cina justru bersikap lunak, bahkan cenderung melindungi kelas kapitalis ini.

Sehingga sejak 1984, pemerintah Cina menerapkan kebijakan untuk melindungi apa yang mereka istilah sebagai Hoakiau atau overseas China, yaitu warga Cina yang berada di luar negeri namun tetap memiliki ikatan dengan leluhurnya di Cina Daratan. Termasuk para taipan rantau tersebut seperti Mochtar Riady, Liem Soe Liong dan Eka Cipta berada dalam perlindungan otoritas politik Cina. 

Pengusaha Tionghoa Indonesia ini dimasukkan dalam kategori orang-orang yang punya potensi keuangan. Dengan kata lain, otoritas politik dan angkatan bersenjata Cina mendukung dari belakang layar, sedangkan para taipan ibaratnya merupakan pasukan penyerbu yang ditugaskan untuk membuka lahan-lahan baru untuk kepentingan nasional Cina. 

Setidaknya itulah agenda tersembunyi Ketua Umum PDIP Megawati Sukarnoputri bekerjasama dengan Mochtar Riady ketika menggagas Konferensi Pengusaha Tionghoa Sedunia ke-13 di Nusa Dua Bali. Akankah Presiden Joko Widodo tetap berperan sebagai “petugas partai” menyikapinya?

Megawati bersama Mochtar Riady menggagas Poros Jakarta Peking Jilid 2, akankah Presiden Joko Widodo tetap berperan sebagai “petugas partai” menyikapinya?

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Membongkar Poros Megawati – Taipan Tionghoa"

Posting Komentar